Program Bawaslu Mengajar disambut Gembira oleh Siswa SMA N 1 Pamotan
|
Rembang – Rabu pagi (24/9), lapangan SMA Negeri 1 Pamotan tampak lebih semarak dari biasanya. Deretan kursi tersusun rapi, para siswa kelas IX dan XII berjejer penuh antusias, dan spanduk bertuliskan “Bawaslu Mengajar” menjadi latar yang menandai sebuah kegiatan penting: menanamkan semangat demokrasi sejak dini.
Di hadapan ratusan siswa, Ketua Bawaslu Kabupaten Rembang, Totok Suparyanto, berbicara lantang tentang makna demokrasi yang sejati. Ia menekankan bahwa demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin lima tahun sekali, melainkan juga soal kontrol masyarakat terhadap jalannya proses pemilu.
“Pemilu yang berkualitas itu bukan hanya ditentukan oleh penyelenggara dan peserta, tetapi juga oleh masyarakat. Karena masyarakatlah yang menjadi pengawas aktif agar demokrasi berjalan lurus,” ujar Totok.
Ia kemudian menguraikan asas-asas pemilu sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 22E ayat (1). Dengan gaya yang sederhana namun tegas, Totok menjelaskan satu per satu prinsip dasar: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Siswa-siswa menyimak dengan saksama, beberapa bahkan tampak mencatat poin penting yang disampaikan.
Di sisi lain, Muhammad Bayanul Lail, Anggota Bawaslu Kabupaten Rembang Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat, membawa diskusi ke ranah yang lebih teknis. Ia memaparkan peta kerawanan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan.
Ada delapan kerawanan yang diuraikannya: mulai dari data tidak valid, keterlambatan pembaruan kependudukan, hingga data pemilih pemula yang belum terakomodasi. Penjelasan ini membuka mata para siswa bahwa persoalan data pemilih bukanlah hal sederhana.
“Partisipasi masyarakat sangat menentukan. Termasuk generasi muda seperti adik-adik semua. Dengan memahami sejak sekarang, kalian bisa ikut berperan menjaga kualitas demokrasi di masa depan,” kata Bayanul dengan nada penuh harapan.
Bagi para siswa, pengalaman ini bukan sekadar mendengar ceramah. Mereka belajar langsung dari pengawas pemilu bagaimana proses demokrasi dijalankan, apa tantangannya, dan bagaimana mereka bisa ikut ambil bagian.
Kegiatan “Bawaslu Mengajar” ini pun menjadi langkah nyata Bawaslu Rembang untuk memperkuat pendidikan politik di kalangan pelajar. Lebih dari sekadar teori, kegiatan ini menghadirkan suasana belajar yang membumi: demokrasi bukan milik elit, tetapi hak dan tanggung jawab semua warga negara termasuk para siswa yang kelak akan menjadi pemilih pemula.
Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga. Muhammad Afriyansyah, Wakil Ketua OSIS SMA Negeri 1 Pamotan, menyampaikan rasa terima kasihnya. “Semoga Bawaslu semakin maju dan jaya dalam menjaga demokrasi,” ucapnya penuh semangat.
Sementara itu, Melfiana Rianti, Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) Kelas XII SMA Negeri 1 Pamotan, menilai kegiatan ini sangat relevan dengan dinamika sekolah. Ia berharap, setelah mengikuti Bawaslu Mengajar, para siswa bisa lebih memahami arti demokrasi, khususnya saat pemilihan Ketua OSIS. “Harapannya, pemilihan bisa berjalan lancar dan sesuai aturan,” katanya.
Tak ketinggalan, Narussalamah, Sekretaris Majelis Perwakilan Kelas (MPK) Kelas XII SMA Negeri 1 Pamotan, juga memberikan apresiasi. Baginya, apa yang disampaikan Bawaslu dapat menjadi inspirasi. “Semoga kegiatan ini bisa menjadi contoh agar pemilihan Ketua OSIS berlangsung baik dan berintegritas,” tuturnya.
Kegiatan “Bawaslu Mengajar” di SMA Negeri 1 Pamotan membuktikan bahwa demokrasi bisa diajarkan sejak bangku sekolah. Tidak melulu soal politik di tingkat nasional, tetapi juga dalam praktik sederhana di lingkungan pelajar. Dari lapangan sekolah inilah, bibit kesadaran demokrasi ditanam, dengan harapan kelak tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga keadilan dan integritas bangsa.
Penulis : Dynn
Editor : Hanif
Foto : Ian