Lompat ke isi utama

Berita

Menyiapkan Generasi Pengawas dari Tunas Pramuka

WhatsApp Image 2026-04-23 at 09.25.19

Bawaslu Kabupaten Rembang mengikuti Kursus Orientasi Singkat (KOS) Gerakan Pramuka yang diselenggarakan oleh Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Pada Kamis. (23/4)

Rembang - Layar-layar Zoom pagi itu dipenuhi wajah-wajah muda berseragam cokelat. Dari berbagai sudut Jawa Tengah, mereka duduk rapi, sebagian di ruang sekretariat, sebagian lagi di rumah masing-masing. Kamis (23/4), bukan sekadar pertemuan daring biasa. Ada semangat yang ingin ditanamkan: menjadi pengawas pemilu sejak dini.
Di balik layar, Bawaslu Kabupaten Rembang turut ambil bagian dalam Kursus Orientasi Singkat (KOS) Gerakan Pramuka. Kegiatan ini menjadi salah satu cara Bawaslu menanamkan nilai pengawasan partisipatif kepada generasi muda, khususnya anggota Pramuka.
Suasana pembukaan terasa khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, disusul Mars Pengawasan Pemilu. Namun, inti dari kegiatan ini bukan hanya seremonial melainkan membangun kesadaran.
Nur Kholiq, Anggota Mabi Saka Adhyasta Pemilu Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, menyebut masa non-tahapan pemilu sebagai waktu yang justru paling strategis.
“Masa non tahapan adalah masa di mana Bawaslu mengembangkan bulir pengawasan partisipatif. Kursus orientasi singkat ini adalah tindak lanjut dari kerja sama yang sudah dibangun,” ujarnya.
Di tengah jeda tahapan pemilu, Bawaslu tak ingin berhenti bergerak. Justru di masa inilah fondasi diperkuat bukan lewat penindakan, tapi lewat pendidikan.
Targetnya jelas: generasi muda.
Para anggota Pramuka dipilih bukan tanpa alasan. Mereka adalah pemilih pemula hari ini, sekaligus penjaga demokrasi di masa depan. Dalam kegiatan ini, sekitar 1.400 peserta dilibatkan sebuah angka yang menunjukkan betapa seriusnya upaya tersebut.
“Kami berharap kerja sama antara Bawaslu dan Pramuka akan terus berkesinambungan,” lanjut Nur Kholiq.
Senada dengan itu, Ketua Mabi Saka Adhyasta Pemilu Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Amin, menekankan pentingnya membangun kesadaran demokrasi mulai dari sekarang.
“Gerakan partisipatif ini penting karena 2027 nanti akan memasuki tahapan pemilu. Sekarang kita harus menggodok agar lahir generasi yang melek demokrasi,” katanya.

WhatsApp Image 2026-04-23 at 09.22.56 (1)


Dalam sesi materi, para peserta tidak hanya mendengarkan mereka diajak memahami peran mereka secara nyata.
Dari paparan tentang Gerakan Pramuka, peserta diajak melihat bahwa Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah ruang pembentukan karakter. Di sana, nilai tanggung jawab, kepemimpinan, hingga kepedulian sosial ditanamkan.
Kemudian, Saka Adhyasta Pemilu diperkenalkan sebagai wadah khusus. Di sinilah Pramuka belajar tentang kepemiluan mulai dari pengawasan, pencegahan pelanggaran, hingga memahami proses demokrasi.
Bukan teori semata. Metode yang digunakan adalah “learning by doing” belajar sambil praktik. Mereka diajak berdiskusi, bekerja dalam kelompok, bahkan memerankan berbagai peran dalam dinamika organisasi.
Di sisi lain, materi tentang manajemen Saka membuka wawasan baru. Bahwa di balik setiap kegiatan, ada struktur, perencanaan, hingga proses pembinaan yang panjang. Dari rekrutmen anggota hingga uji kompetensi, semua dirancang untuk membentuk pribadi yang siap terjun ke masyarakat.
Tak kalah penting, peran orang dewasa juga disorot. Mereka bukan sekadar pendamping, tetapi fasilitator, motivator, sekaligus teladan. Tanpa mereka, proses pembinaan tak akan berjalan optimal.
Di balik rangkaian materi itu, ada harapan yang lebih besar.
Bahwa menjaga demokrasi bukan hanya kewajiban Bawaslu, melainkan kewajiban seluruh warga Negara Indonesia. Bahwa pengawasan bukan sekadar tugas, melainkan kesadaran.
Di ruang-ruang kecil tempat para peserta mengikuti kegiatan ini, mungkin belum terlihat dampaknya hari ini. Namun, beberapa tahun ke depan, dari layar-layar itu bisa lahir pengawas-pengawas pemilu yang tangguh.
Dan dari sanalah, demokrasi menemukan penjaganya.

Penulis : DYNN

Foto : Epep

Editor : Humas