Lompat ke isi utama

Berita

Eksistensi SAKA Adhyasta Pemilu dalam Pembagunan Kembali Semangat Kepramukaan di Kwarcab Rembang

WhatsApp Image 2025-12-10 at 13.12.22.jpeg

Bawaslu Kabupaten Rembang menghadiri acara Penguatan Saka Kwartir Cabang Rembang, pada Rabu (10/12).

Rembang – Pagi itu udara di sekitar Hotel Gajah Mada terasa berbeda. Di balik aktivitas seperti biasa, ada geliat semangat muda yang menyala. Perwakilan dari berbagai Satuan Karya (Saka) se-Kabupaten Rembang berkumpul dengan satu tujuan: memperkuat pondasi kelembagaan yang selama ini menjadi ruh gerakan Pramuka.

Bawaslu Kabupaten Rembang menjadi salah satu peserta yang hadir, bergabung bersama Saka dari lembaga pendidikan dan instansi pemerintah. Di sebuah ruangan pertemuan yang tertata rapi, suasana tampak penuh antusiasme sejak awal acara dibuka oleh Gunasih, Ketua Kwarcab Kabupaten Rembang.

Dalam sambutannya, Gunasih menyampaikan pesan yang terasa seperti pukulan lembut namun tegas bagi seluruh Saka. Ia menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan sebagai kunci agar setiap Saka mampu bergerak lebih solid dan berkualitas.

“Saka harus semakin kuat, programnya harus semakin relevan. Kita butuh kegiatan yang hidup, aktif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujarnya, memberikan dorongan sekaligus harapan.

Para peserta yang duduk rapi mendengarkan dengan penuh perhatian. Di wajah mereka tersirat kesadaran bahwa perubahan memang perlu dibuat, dan penguatan Saka adalah jawabannya.

Setelah sambutan, acara berlanjut dengan materi inti yang dibawakan oleh Rasdadik, anggota Bidang Pusdiklat Kwarcab Rembang. Ia bukan hanya menyampaikan data, tetapi menghadirkan cermin besar bagi seluruh Saka: refleksi tentang apa saja yang selama ini menjadi hambatan.

dsdad

Rasdadik memulai dengan persoalan klasik yang sering dianggap sepele: publikasi. Ia mengungkap bahwa lemahnya publikasi membuat banyak Saka seolah berjalan dalam bayang-bayang. Peserta didik tidak mengenal, masyarakat tidak memahami, dan akhirnya citra Saka menjadi tumpul.

Ia kemudian mengangkat masalah kemasan kegiatan. Banyak Saka sebenarnya aktif, namun kegiatan yang disajikan belum mampu menyentuh minat dan bakat generasi muda. “Kegiatan itu harus menjadi ruang bagi mereka untuk merasa ‘ini tempatku’,” ujarnya.

Bagian yang paling menggugah adalah ketika ia membahas relevansi Pramuka. Pramuka, katanya, tidak boleh terjebak dalam rutinitas masa lalu. Ketika kegiatan tidak lagi sejalan dengan perubahan, minat peserta didik menurun, kualitas kegiatan merosot, dan citra Saka perlahan memudar.

Tak ada yang menyangkal, ruangan itu penuh dengan respon hening. Bukan diam yang pasif, namun diam yang sedang bekerja: merenung.

Namun suasana tidak berhenti pada refleksi. Ada semangat yang perlahan muncul. Kegiatan ini terasa seperti ruang untuk membangun kembali masa depan Saka—sebuah masa depan yang lebih hidup, relevan, dan dekat dengan generasi muda.

Bagi Bawaslu Rembang dan Saka lain yang hadir, hari itu bukan sekadar kegiatan pelatihan. Hari itu menjadi titik tolak perjalanan baru. Sebuah langkah yang menegaskan kembali bahwa Saka bukan hanya organisasi, tetapi wadah pembentukan karakter dan keterampilan yang harus terus tumbuh seiring zaman.

Di Hotel Gajah Mada pagi itu, tekad itu mulai dipatri kembali. Semoga langkah kecil ini menjadi gerakan besar untuk menghidupkan kembali semangat Saka di Kabupaten Rembang.

Penulis : Dynn

Foto : Hery

Editor : Humas